Antara SNI, SNELL, dan DOT

Apakah Pengguna Helm Non SNI akan di Tilang ?

Aturan baru bagi pengendara sepeda motor atau bikers dikeluarkan. Mulai 25 Maret 2009 semua helm yang dikenakan wajib memiliki kualitas jaminan mutu yakni Standar Nasional Indonesia (SNI).

Aturan ini merupakan penerapan dari peraturan Menteri Perindustrian yang sudah diteken sejak 25 Juni 2008 lalu yang tertuang dalam peraturan Menteri Perindustrian No 40/M-IND/Per/6/2008. Dan mulai berlaku efektif mulai 25 Maret 2009 atau 9 bulan sejak ditetapkan.

Bagaimana dengan Helm dengan Standar SNELL – DOT yang jelas lebih berkwalitas ?

Sebagai perbandingan helm standar SNI merupakan helm dengan kisaran harga 250 – 400 ribu rupiah. sedangkan helm type Full Face dengan standar SNELL dan DOT merupakan helm dengan standard Uni Eropa – Amerika Utara dan Jepang yang mendapat sertifikasi untuk digunakan di ajang sekelas MotoGP dan WSBK,

Kontras dibandingkan dengan helm yang hanya memiliki sertifikasi SNI, karena jangankan untuk dipakai di ajang balap internasional, di negara pengantut standar SNELL – DOT penggunaan helm SNI di jalan umum saja merupakan pelanggaran karena kwalitas helm tersebut yang dianggap tidak layak.

Lalu Apakah Penggunaan helm SNELL – DOT non SNI akan di tilang ?

Memang saat ini belum ada aturan resmi – baku mengenai pengguna helm dengan sertifikasi SNELL – DOT, tetapi yang jelas helm seperti ARAI, AGV, KBC, NOLAN, SHOEI hingga VEMAR memiliki kwalitas bak bumi dan langit dibanding helm yang telah banyak beredar di pasaran seperti INK, KYT, Takashi bahkan AGV (imitasi) tapi telah bersertifikasi SNI. Jika memakai logika seharusnya pengguna helm dengan sertifikasi SNELL – DOT tidak boleh ditilang. Tetapi yang jelas Indobikers tidak akan mempertaruhkan “kepala dan nyawa” nya dengan helm seharga 200-400 ribuan tersebut, saia lebih percaya dengan helm berstandarisasi SNELL – DOT, bagai mana dengan anda ?

Untuk keterangan tambahan :

Ini versi SNI:
4.2.2.1 Penyerapan energi kejut

Penurunan percepatan maksimum pola kepala uji harus tidak lebih dari 300

g, dimana sungkup diuji dari berbagai bagian konstruksi, akan tinggal tetap utuh pada garis sambungan di atas garis ACDEF (lihat Gambar 2), pengujian dilakukan menurut metoda pada pasal 6.2.

Ini versi Snell dan DOT
Snell limits the peak value to no more than 300 G’s. Dr. George Snively, one of Snell’s founders, had determined on the basis of his own research that young adult men could survive head crash impact accelerations at levels between 400 to 600 G’s. He selected test criteria on the order of 300 G’s for the Snell standards as acceleration levels that would be safe for almost all healthy people.

The DOT Standard requires that the peak acceleration not exceed 400 G’s but they also put duration limits on the acceleration pulse. The period of time for which the pulse exceeds 200 G’s must not be longer than 2 milliseconds. The period of time for which the pulse exceeds 150 G’s must not be longer than 4 milliseconds. Duration criteria was taken from the 1971 ANSI Z90.1 standard. This criteria was dropped by ANSI in 1973 prior to the DOT standard going into effect.

Jadi…
SNI, pass kalau di bawah300g
Snell, passed kalau di bawah 300g
DOT, passed kalau di bawah 400g

naah..kira2 bagusan mana? ,smakin kebawah kan smakin bagus. Standar indonesia tampaknya sudah cukup lebih bagus daripada yang lain,sekarang tergantung agan2 ini rajin pake helm apa ga.. yg jelas helm apapun itu dipakai buat pengaman agar tdk terjadi hal yang tidak diinginkan (lhoh?mksudnya??) ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: